Kerja Keras ala Bapak

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Orang tua, bapak adalah figur pertama seorang anak. Baik langsung atau tidak langsung akan menjadi panutan.  Seingatku, bapakku tidak pernah mengajarkan atau menyuruh untuk bekerja keras. Bekerja dengan sungguh-sungguh. Bekerja tanpa mengenal lelah dan terus menerus. Tidak pernah menyerah dan sabar. Bangkit dan bangkit lagi. Jatuh bangun, bangun, bangun lagi. Tapi aku memperhatikan dan merasakan gairahnya. Bertindak mengikuti bagaimana beliau berusaha keras menggapai kehidupan.  Mencukupi semua penghidupan yang selayaknya. Tujuannya masih pada pencapaian kebutuhan dasar, bukan pada aktualisasi  diri.

Bapak  yang aku ingat mengajarkan bekerja keras pada teman pergaulan,  tetangga atau saudara yang usianya matang memulai hidup. Kukenal saat itu Paklik Gito, memulai bekerja sebagai penjual bakso dan sering bertandang ke  rumah. Aku mencuri dengar bagaimana bapakku membangkitkan semangat untuk hidup dan bekerja keras. “Pokoke kerjo terusno ae, kudu seneng, kabeh payu…. Sing kuoso iku mbagi rezeki”, kata beliau menasehati. Hal yang penting kerja terus dengan senang, semua usaha jualan pasti laku. Nasehat bapak kalau Paklik Gito dagangan baksonya sepi atau tidak laku sama sekali. Bapak menganggap biasa dan wajar. “jenenge wong dodol ono payu, onok sepine dik. Suwi-suwi yo payu. Wong dodol jambe ae ning pasar yo payu. Padahal sopo saiki sing nyusur? Jarang wong nyusur, tapi jenenge wong dodol nemu payune. Nemu rezekine”, biasanya bapak menekankan nasehatnya.

Bapak juga selalu memberi saran untuk berjualan atau kerja apa saja tidak menyerah. Nasehat ini  diutarakan pada siapa saja orang muda yang datang atau pasangan yang baru menikah. Meskipun tidak semua orang mengikuti atau mengakui  bahwa nasehatnya itu benar dan penting. Bapak bukan sekedar ngomong dan asal menasehati. Beliau juga melakukan dan aku saksi hidup perjalanannya. Aku mendengar dan bekerja bersamanya. Sebelum menikah bapak dikenal orang sebagai seorang pekerja. Mbah buyutku, mbah tini, mbah sumartini menceritakan beliau sekolah dan juga menggarap sawah sebagai buruh tani, juga mengajar di SD. Ketika baru menikah dan memboyong ibuku di desa kelahiranku, Umbulsari, bapak juga menjadi buruh panjat kelapa membantu pakde Sugito yang penjual kelapa, jualan minyak keliling (pegawai pertamina, istilah bapak), ke sawah sekali waktu, dan juga mengajar. Aku bayangkan bapak sibuk sekali. Katanya untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya, aku dan adikku. Air susu ibu dan susu kaleng yang dibeli bapakku dengan keringatnya membentukku saat ini.

Ketika sudah mengajar dan menjadi guru. Bapak juga berjualan kecil-kecilan. Bapak berjualan rokok dan wayang-wayangan, berjualan bakso dan es, berjualan sate kelinci dan soto kelincii, atau berjualan baju/jaket yang dijual ibu. Bapakku juga pernah bekerja menjaga loket masuk  acara ludruk, ketoprak, janger, atau wayang wong. Dulu di desaku ada satu tempat acara pagelaran yang rutin tiap hari. Pagelarannya berganti-ganti sebagai hiburan masyarakat di sekitarku. Tempat itu menjadi referensi hiburan masa kecilku. Bapak juga bekerja sebagai pembagi beras jatah untuk guru-guru SD dan SMP di dusunku.  Pekerjaan-pekerjaan itu dikerjakan sampai kurun waktu lama dan bukan insidental. Pekerjaan-pekerjaan insidental seperti menjadi panitia pemiihan umum atau petugas survei juga dilakukan. Banyak sekali perjalanan bapakku berusaha mengisi hidup. Beliau adalah bukti pekerja keras. Orang lain mungkin tidak percaya atau memandang tidak penting. Tetapi aku menjadi saksi dan akan saya bawa sampai mati pula cerita perjalanan beliau.

Sampai saat ini sebenarnya masih ada rencana pekerjaan yang belum dilakukan.  Beliau ingin menjadi penjual jamu seduh. Membuka jualan di dekat rumah. Beliau dulu juga ingin membeli alat es puter, untuk jualan yang belum pernah terwujud.

Kata kunci kerja keras ala bapakku setelah sekian lama adalah bekerja terus pantang menyerah, menyenangi pekerjaan, sabar menerima tiap kondisi, dan sungguh-sungguh.

Perjalanan bapak untuk menjadi seorang guru (PNS) juga menjadi bukti upaya keras dan pantang menyerah seorang bapak. Semoga bapak mendapatkan tempat yang layak dan kami akan selalu menjaga amanah untuk mewariskan semangat itu. Semoga bermanfaat untuk anak dan cucu.

Iklan
Dipublikasi di Cerita Nostalgia, Tak Berkategori | Tag , | Meninggalkan komentar

Aku, Bapakku, dan Mbah Kakungku

Denyut nadiku selalu terkenang beliau, bapakku SUMINO. Perasaan berduka hingga kini masih terasa. Getir dan berdosa rasanya. Ketika pekerjaan kian mapan, dan kesempatan mulai terbentang, beliau telah berpulang. Apa yang aku dapatkan hingga seperti tidak ada arti. Tidak ada lagi yang bisa kuceritakan. Bapakku tempat segala cerita. Mengadu, merencanakan, bahkan bertindak. Kata-katanya adalah referensi petunjuk. Ceritanya memandu arah berpijak. Sampai saat ini jika hati telah berkecamuk maka hari-hari masa lalu adalah pencerah. Mengingat yang dilakukan dan dikatakan dapatlah menenangkan hati.

Mengapa hatiku tidak lepas dengan beliau, mungkin karena perjalanan perjuangannya terekam kuat padaku sebagai anak pertama. Bagaimana di pagi hari mengajak keluar dan berjalan di desa yang jauh dari keramaian, itu kudengar semenjak tangkapan ingatanku dapat mengingat. Bagaimana beliau bersusah payah dan bersemangat membelikan susu untukku. Waktu beliau dihabiskan untuk sekolah, berjualan minyak tanah, berjualan kelapa, atau menjadi buruh panjat, selain sekali waktu menimang dan mengkidungkanku harapan-harapannya.

Beliau juga begitu kagum dan mengingat betul bagaimana “emak” untuk sebutan bapaknya yang telah membina kesabarannya menjadi manusia. Kakekku dan orang tua bapakku namanya Tirto Sumantono. Sebenarnya ada gelar bangsawan di depannya sebagai Raden Mas. Konon, katanya orang tuanya adalah demang di daerah Begelen atau Bagelen, apa di Jawa Tengah. Meskipun dituakan di desa tempatku lahir, dusun Besek, Umbulsari, Jember, beliau tidak mau disebut atau dipanggil Raden. Tahunya dipanggil begitu kalau saudaranya dari Jawa Tengah datang dengan beskap menggunakan blangkon. Mbah Kakukngku hanya menggunakan udeng warna gambir atau hitam putih saja. Ingatku beliau tenang dan suaranya pelan berwibawa, senyumnya selalu ramah, nadanya datar tidak menunjukkan emosi tinggi atau pun merendahkan.

Kagumnya bapakku, mungkin seperti aku saat ini. Bapakku cerita kalau menghadapi suatu masalah sulit dan berat sekali, kadang kala mbah kakungku datang dalam mimpinya. Beliau katakan “wes ra sah dipikir, mengko ono dalane. Nerimo wae”. Mbahku mungkin tipikal ora Jawa Ndeso. Berpikir moderat, mengembalikan segala masalah pada jalan yang sewajarnya. Tidak optimis segera dikejar solusinya.  Tapi itulah akar budaya dan kepribadian kami.

Masih banyak cerita yang sungguh unik dan menarik karena pelajarannya. Hatiku tetap berdoa agar bapakku dan mbah kakungku mendapatkan tempat yang layak. Bila selalu ingat, bacaanku adalah Al Fatehah!!!

Sidoarjo, 17 September 2017 pukul 23.15

Dipublikasi di Cerita Nostalgia, Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Perjalanan di Banda Aceh

Aceh terlelap ketika pesawat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda. Pukul 11.10 pesawat-pesawat lain tanpa suara terdiam. Langkahku keluar dari badan pesawat memasuki pintu kedatangan. Pegawai sudah tidak gaduh mengarahkan penumpang. Hanya di lantai bawah, para supir taxi dan penjemput menyapa-sapa mencari penumpang, menyambut tamu atau mengantar keluarga. Keluar batas bandara petugas parkir pun sudah menghilang beristirahat. Di sini parkir kendaraan tidak sampai 24 jam.
Alhamdulliah kedua kalinya menampak tanah rencong. Pertama kali sekitar tahun 2008-2009 adalah tugas mengimplementasikan buku hasil pengembangan yang diujicobakan pada siswa SD di Aceh. Saat ini adalah tugas mengantarkan kontingen UNESA dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2015.
Perjalanan cukup melelahkan karena ditemani beberapa jadwal pesawat delayed. Di Surabaya, pagi mempersiapkan pelantikan Pembantu Dekan III periode kedua masa 2015-2019. Pukul 11.10 usai acara langsung ke gedung D1 FMIPA UNESA untuk syukuran. Pukul 12, meluncur segera ke bandara Juanda karena mengejar jadwal 13.50 pesawat terbang menuju Jakarta. Ternyata, jadwal tertunda dan menunggu pukul 14.10 diberangkatkan. Sampai Jakarta tanpa guncangan dan hujan mengantar kami menuju terminal B2. Seorang petugas maskapai pesawat, mengantar pada meja transit. Saya sendiri dari satu pesawat boing 737-900 ER yang akan berpindah menuju Banda Aceh. Malang, pesawat tertunda sampai pukul 17.50 dari jadwal seharusnya 16.53 dengan alasan teknis, pesawat belum tiba atau mengisi BBM. Pesawat mulai terbang. Meskipun duduk di dekat jendela dan leluasa melihat pemandangan di luar tapi gelap menghalau pandangan.

Di atas kota Medan, tampak gemerlap lampu-lampu sepanjang jalan dan rumah. Sinar lampu seolah intan atau perak yang disebarkan. Gerak motor atau mobil seperti cairan emas menuju tempat-tempat rendah.
Tiba di Medan kurang lebih 2 jam 5 menit menurut pengumuman pramugari. Transit kami hanya dalam pesawat, sehingga tidak melongok indahnya bandara Kuala Namu, Medan. Pesawat akhirnya kembali terbang dan mengantar kami menghirup segar kota Banda Aceh. Menuju hotel, di kanan-kiri kami penjual batu cincin masih belum menutup lapaknya. Warung-warung kopi khas Aceh masih buka. Syukurku hari ini, 16 Nopember 2015 sampai 18 Nopember 2015 akan menikmati aktivitas di tanah suci, ujung Indonesia.
Banda Aceh, 17 Nopember 2015

Dipublikasi di Cerita Wisata | Tag | Meninggalkan komentar

Pulang Kembali, Kaimana

Pagi gerimis menyejukkan tanah kaimana. Tanah pasir putih mulai menggumpal. Hari minggu, 8 November 2015 pukul.8.30, sebuah ojek motor masuk penginapan. Helm dengan warna putih bertulis nomer-nomer tertentu adalah tanda seorang ojekers. Warna lain ada hijau atau oren. Ojek salah satu kendaraan penduduk setempat. Ada juga  angkutan lain seperti colt dengan berbagai warna. Orang sini menyebut taxi. Ojek atau taxi jauh dekat umumnya 5000 rupiah. Kecuali jalur khusus ke bandara 25ribu. Kalau taxi dari bandara dengan mobil charter bisa 150ribu. Menurut penduduk dari Yogya yang sudah menetap dari ujung jalan raya dibandara sampai kota dekat pelabuhan jaraknya sekitar  17 km. Masih lebih jauh dari gebang raya, sidoarjo sampai ketintang surabaya sekitar 25 km. Jalannya lancar menyusuri tepi pantai dan tidak ada kemacetan berarti.
kaimana2
Aku menumpang tanpa helm beranjak menyusuri kembali satu jalur kaimana menuju bandara. Tepi kiriku pantai dan kanan bangunan seperti POM bensin, masjid, kantor-kantor, pasar, pasar ikan, dan lainnya pos-pos pemenangan pemilu. Hari minggu, saudara kita ke gereja belum keluar melakukan aktifitas. Kendaraan sedikit yang lalu lalang.
Masuk bandara langsung menuju meja bording pas. Seorang laki-laki batak membuatkan print out tiket. Barang tanpa x ray dan pemeriksaan ketat. Bahkan penumpang bisa melongok ke batas pacu pesawat. Di landas pacu terlihat anjing berlari dan penduduk berjalan di tepi pantai. Bandara Utarom, Kaimana menghadap pantai dan landai. Aku menunggu sambil bercerita bagaimana orang kaimana berlaku. Beberapa penumpang adalah pekerja yang akan pulang kampung atau melanjutkan kerja di tempat baru.

Pesawat dari Fak-fak tiba. Keluarga penumpang tidak sabar hanya menunggu di pintu kedatangan. Tanpa ijin pun dia menuju pintu pesawat. Anak-anak bergelayut menghampiri bapaknya. Ibu-ibu berpelukan dengan keluarganya. Seorang tanpa penjemput atau keluarga tinggal berjalan keluar tanpa pemeriksaan. Mungkin sudah saling mengenal atau karena kita bersaudara maka saling percaya saja. Kaimana menurut orang buton yang tinggal di Fak-fak adalah tempat nyaman dan aman. Lainnya adalah raja ampat, teluk bintuni, dan Fak-fak.

Pukul 10.25 WIT akhirnya pesawkaimana3at terbang menuju Ambon. Dalam pesawat ATR 72-500 diperkirakan 1 jam 30 menit. Pesawat mengangkasa. Cuaca kadang menggangu sehingga ada sedikit guncangan. Dekat Ambon mendung tanpa mengganggu pandangan tapi pilot menelusup dan mendarat selamat di kota Ambon. Turun pesawat dan mengantri kembali untuk pemberangkatan pukul 15.45 WIT menuju Surabaya.

Waktu berlalu, pengumuman menyila memasuki pesawat Boing 727-900ER. Selama 1 jam 30 menit pesawat menari-nari di angkasa. Menyelinap di antara kabut putih. Bermain di sisi gumpalan awan serupa gunung atau raksasa yang meyeringai. Sekian waktu, guncangan sedikit tanda pesawat di turunkan. Rumah-rumah dan pohon-pohon semula kecil bertebaran. Tiba-tiba, menjadi seukuran tinggi pesawat yang melandai di landasan. Pesawat telah mencium tanah Makasar, tanah Hasanuddin. Kami yang tujuan Surabaya disilakan tunggu dalam Pesawat. Sekitar 18.10 waktu setempat, pesawat melesat kembali ke angkasa.

Senja kaimana bak tampak di atas langit. Merah teja di lautan mendung bergaris-garis, merah kekuning-kuningan. Temaram langit gelap, seakan elok, kulihat dari jendela. Mendung kecil seperti gubuk-gubuk yang dituju pesawat. Sejurus terbang kearahnya, merah teja seolah menjauh-mendekat. Garis tegas antara terang dan gelap, seperti di tengah samudera. Lama-kelamaan warna menjadi pucat dan gelap. Tanda kami sudah terbang selama 1 jam 20 menit mendekati daratan Surabaya.

Pesawat tidak menjulang. Melandai dekat dataran yang gemerlap laksana emas atau pun perak. Warna cerah lampu putih rumah-rumah dan gedung seperti intan yang di hamparkan. Lalu lalang kendaraan dan lampu jalan berwarna keemasan ibarat untaian emas. Bersyukur sekali, dataran Surabaya dan Sidoarjo aku jelajahi kembali.

Terima kasih dan syukurku diberikan kesempatan menikmati karunia terindah. Semoga lain waktu, aku kembali bercerita tentang Kaimana.

Surabaya, 9 November 2015.

Dipublikasi di Cerita Wisata | Tag | Meninggalkan komentar

Perjalanan di kaimana

Hari ini rabu, 4 November 2015, pukul 22.00. Di ruang tunggu bandara Juanda Surabaya, para penumpang dengan tujuan Ambon dipersilakan masuk ke pesawat logo merah bergambar singa. Termasuk aku, duduk di nomer 6E diapit dua perempuan. Pukul 22.25 pesawat bergetar menantang angkasa. Pukul 23.55, pramugari mengulang duakali pengumumakaimanan. Silakan turun pesawat. Pesawat  telah mendarat di bandara Hasanuddin  Makasar. Penumpang tujuan lain, silakan menuju ruang transit berganti pesawat lain. Masuk ruang bandara, melihat ornamen seperti kapal penisi kebanggaan makassar. Toko kerajinan menjual berbagai ragam model kapal penisi dan benda-benda khas makasar. Pada tiket tertulis board time adalah pukul 3.05 wita. Jadi ada waktu sekitar 2 jam-an berkeliling menyaksikan pernak-pernik di bandara. Kita bisa minum kopi, makan, atau kalau cukup bekal jalan-jalan di gift shop, art shop, atau ngopi. Aku duduk-duduk dan memperbaiki status saja.
Tepat waktu yang tertera di boarding pass, announcer memanggil pasukan jurusan ambon berangkat. Pesawat airbus dengan logo singa merah kudatangi. Pramugara memeriksa tiket dan menyilakan masuk. Dudukku tetap diposisi tengah di nomer 10 dikurangi 8 kali 12 dibagi 4 ditambah variabel E. Duduk langsung memposisikan tidur. Setelah satu jam 30 menit tampak garis-garis sinar pagi berwarna kekuningan dan biru seperti dipasir angkasa. Pesawat turun di tanah Ambon. Tiket transitku baru diberikan di counter bandara Pattimura, Ambon. Pukul 7.10 pesawat lain siap mengantar ke kota senja. Pukul  7.20 peswat ATR 72 500/600 terbang, ternyata transit di kota fak-fak. Setelah sekali-kali gunjangan kecil karena cuaca sedikit terganggu, akhirnya Pukul 9.00 pesawat landing di jalur pendek. Bandara  terletak di bukit dengan  kakinya pemandangan laut warna biru. Aku menunggu dalam pesawat, di luar hanya satu pesawat yang ada. Ya pesawat yang aku naiki.
Pukul 9.15 pesawat terbang kembali menggapai langit biru. Sekitar 45 menit diangkasa, akhirnya bisa menatap kembali laut biru di dataran kaimana. Laut disamping bandara datar menyambut setiap pesawat terbang yang mendarat. Aku keluar dari pesawat menghirup segarnya udara kaimana. Sebuah mobil siap antar aku di penginapan. Alhamdullilah meskipun lumayan panjang perjalanan, akhirnya bisa kutelusuri jalanan rata dan lancar menyisiri pantai kaimana. Keramahan sudah terasa di awal perjalanan. Penduduk dari berbagai suku kulihat dari gaya bicara dan logatnya. Inilah Indonesia yang satu. Sejalan dengan jalan gedung dewan, bupati, pasar, masjid, gereja, pom bensin dan pertokoan, mobil akhirnya berhenti di suatu rumah penginapan. Aktivitas tugasku dimulai.

Kaimana, 5 Nov 2015.

Dipublikasi di Cerita Wisata | Tag | Meninggalkan komentar

Segitunya

“Pak….” anakku memanggil lewat WA-nya. “Ya ada apa?”, sampai lama tidak dijawabnya. Kuulangi berkali- kali jawaban, sampai khawatir ada apa di sekolahnya. Dijawabnya dengan pertanyaan, “bapak punya uang?”.Kenapa pertanyaan begitu? Diculikkah, hilang motornya, atau kehabisan uang sakunya? Jawabku juga ragu karena khawatir tidak memenuhi harapannya. Setiap orang tua mungkin ingin selalu memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi anak-anaknya, meskipun sekedar jawaban yang memuaskan. Harapan juga mungkin tidak dapat dipenuhi orang tua, tapi paling tidak kelak harapannya bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri. Jawaban memuaskan dan menyenangkan itu, yang dilayangkan sebelum memberi kesenangan nyata.
“Sekolahku mau rekreasi… Bayarnya banyak dan sebelum tanggal 10, harus dibayar…bapak bisa bayar”, tulis anakku di message WA-nya. Aku tahu dia bukan bermaksud bercanda atau melecehkan. Orang tua yang keduanya bekerja dengan status dan jabatan cukup baik masak tidak bisa bayar rekreasi? Memang bisa terjadi. Anakku mungkin telah mengetahui ada kesulitan keuangan sehingga perlu memastikan bahwa kami punya uang. Mungkin karakter anak pertama yang tahu dan merasakan perjuangan sebuah keluarga. Baginya kepastian tidak memberi beban tambahan. Apalagi ditulisan berikutnya, “kalau tidak ada, aku lapor guruku. Pak…tidak apa2”, terhenyak juga aku. Rasanya ingin aku peluk dan berbisik, bapak akan bekerja keras untuk memenuhi keinginanmu. Seperti halnya mbah kakung dulu, menuntaskan tugasnya dengan kerja keras dan perjuangan. Asal tidak berlebihan dan sewajarnya. “Bayarnya berapa nak?”, jawabku tertulis di pesan. “950rb”, oh.segitu. “Ya, nak”, segera jawabku agar menghibur galaunya. Masih bisa diusahakan dengan mengatur prioritas yang harus dibayarkan. “Segitunya, ya anak-anak”, timpal istriku yang bertanya dibalik pesan WA-nya dari negeri ginseng. Memang, dia mulai dewasa mengetahui kebutuhan keluarga dan prioritasnya. Semoga hatinya tetap diberi kelapangan untuk tidak memaksa kehendak dan bisa menjaga diri. Banyak harapan yang akan diraihnya. Sukses untuk kalian semua.

Dipublikasi di Cerita Anak | Meninggalkan komentar

Anakku Berkaca-kaca

Sore sekitar jam empat-tigaan. Anakku tiduran di sofa sambil menatap televisi. Matanya begitu menyimak. Acara TV adalah kisah seorang gadis kecil yang tinggal di rumah besar. Gadis itu anak pembantu yang kebetulan diberikan kamar tinggal dalam satu rumah. Karena kebaikan majikan laki-laki dan perempuannya, anak gadis itu dapat bersekolah di sekolah internasional berbahasa Inggris meskipun gadis itu tidak bisa berbahasa Inggris. Kisah sedih beruntun karena hasutan ibu mertua terhadap anak gadis majikan. Pasha, sang anak gadis majikan awalnya bersahabat dan saling bantu, bahkan menganggap gadis anak pembantunya adalah adiknya. Kisah diolah hingga haru biru. Gadis kecil anak yatim pembantu mendapat juara menggambar, bahkan bisa mengikuti lomba membaca puisi berkat bantuan bapak majikannya. Dia dijebak temannya untuk mengikuti lomba. Padahal sebelumnya tidak bisa mengeja satu huruf pun. Majikannya tergugah, ketika pembantunya memergoki sang anak menangis dan menyesal mau disuruh ikut lomba. Dikira temannya sungguh-sungguh, tapi tujuannya adalah memalukan dia. Apalagi kakaknya jengkel karena kemauannya mengikuti lomba itu. Sang ibu berkata sebaliknya, “Tidak anakku. Temanmu tidak menjebakmu. Kakak Pasha tidak mencemooh dan memalukanmu. Masalah yang datang harus dihadapi tidak boleh berlari. Kamu bisa dan harus bekerja keras, tidak masalah kamu menang atau kalah. Yang terjadi biarlah menjadi yang terbaik”. Majikannya begitu semangat mendengar harapan yang begitu besar, sehingga beberapa waktu diluangkan untuk anak pembantunya.

Kisah itu menjadikan haru anakku. Matanya berkaca-kaca dan lembab. Saya melihatnya, termakan rasa dan alur cerita. Begitu haru sehingga menitikan air mata.

Anakku sudah dapat membedakan baik-buruk. Bayanganku karena sibuknya memainkan game-game menjadikan mata hatinya beku untuk melihat kisah-kisah seperti itu. Zaman berubah, pikirku dia akan apatis dengan kisah melodramatik. Televisi yang benar dipilih dan didampingi dapat saja menjadi sarana mengekalkan pikiran jernih. Menyucikan hati dan memposisikan diri menjaga kebenaran, serta kasih sayang.

Masaku dengan cerita wayang, janger, ketoprak, ludruk memperkaya pikiran dan kasanah jiwa untuk mengasihi dan menempatkan diri menjadi orang bener, pener, nggak keblinger. Beda masa, beda cerita, dan beda sarana. Yang penting, hari ini aku punya harapan bahwa di masanya, pesan moral kehidupan akan dimiliki anak-anakku.

Sidoarjo, 1 November 2015

Dipublikasi di Cerita Anak | Meninggalkan komentar